Siapa yang sudah menonton salah satu film dari negeri sakura ini?
All About Lily Chou-Chou (2001) karya Shunji Iwai bisa dibilang sukses memantik perhatian para penggemar film melankolis. Film yang rilis sudah lebih dari dua dekade ini terasa emosional bukan hanya karena alur ceritanya saja. Sinematografi yang ditampilkan juga mencerminkan jiwa film ini, hingga tersentuh oleh jiwa para penonton.
Apa yang membuat film coming-of-age tersebut memiliki daya tahan emosional sebesar itu? Simak jawabannya melalui hasil analisa berikut.
Dua Penelitian Kunci Pengulik All About Lily Chou-Chou
Penelitian pertama adalah tesis master oleh Isabella Jones dari Stockholm University pada tahun 2025, berjudul “The great wound of the heart is existence: The therapeutic function of digital fandom demonstrated in Shunji Iwais All About Lily Chou-Chou“. Penelitian kedua adalah artikel jurnal oleh Wai-fung So dari Hong Kong Baptist University, terbit di Journal of Japanese and Korean Cinema (2023), berjudul “Trauma and sensation: a study of the youth icon in All About Lily Chou-Chou” (2001).
Dari dua penelitian inilah kita bisa memahami mengapa film ini terasa dekat dan intens.
Fungsi Terapeutik Fandom Digital
Isabella Jones melakukan close reading terhadap adegan-adegan dalam film. Ia juga mengamati lebih dari 15 komentar pengguna di platform Letterboxd, sebuah aplikasi pencatatan film yang populer di kalangan usia di bawah 35 tahun. Jones menemukan bahwa film ini secara sadar memperlihatkan tiga aspek utama fandom digital: iman (faith), pelarian (escapism), dan anonimitas.
Iman: Lily Chou-Chou sebagai Dewa Modern
Dalam film, para penggemar menyebut sebuah konsep bernama The Ether. Penggemar Lily Chou-Chou memaknai The Ether sebagai tempat atau keadaan transenden yang hanya dimiliki sang idola. Untuk mencapainya, seorang penggemar harus menunjukkan pengabdian total. Jones mengingatkan bahwa kata ‘fan’ sendiri berasal dari bahasa Latin ‘fanticus‘, yang berarti terinspirasi oleh dewa. Peneliti seperti Matt Hills menyebut fenomena ini sebagai neoreligiusitas. Fandom tidak menggantikan agama tradisional, tetapi meminjam bahasa dan ritualnya: ada dosa (merusak Ether), ada pahala (masuk ke dalam Ether), dan ada penghakiman antarpenggemar. Dalam film, ketika Yuichi (penggemar dengan nama alias Philia) tertangkap mencuri CD, seorang pegawai toko berkata, Dia fans Lily Chou-Chou. Ini merusak Ether.
Musik sebagai Tali Kehidupan
Jones mengutip teori escapism dari Matthias R. Hastall. Masyarakat tidak lagi menganggap pelarian sebagai perilaku menyimpang, melainkan sebagai kebutuhan manusia. Film memperlihatkan bagaimana Yuichi dan Hoshino menggunakan musik Lily untuk keluar dari realitas yang menyakitkan: bullying di sekolah, perceraian orang tua, kebangkrutan keluarga, hingga pemaksaan prostitusi remaja.
Anonimitas: Persona Online vs Realitas
Yuichi di dunia nyata adalah korban bullying yang tidak berdaya. Namun, di forum online dengan nama Philia, ia menjadi pemilik situs dan ahli Lily yang disegani. Hoshino, yang di dunia nyata adalah pemimpin geng penganiaya, di forum menggunakan nama blue cat dan menjadi teman curhat terdekat Philia. Mereka mendiskusikan keinginan bunuh diri dan rasa sakit yang mendalam tanpa mengetahui identitas asli masing-masing.
Jones mencatat ironi tragis: teman online terbaik Philia adalah orang yang paling menyiksanya di dunia nyata. Anonimitas memberikan kebebasan, tetapi juga menciptakan ilusi kedekatan. Penonton film ini merasakan ambivalensi itu secara intens. Kita tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh Yuichi. Pengetahuan ini membuat hati terasa sesak.
Sinematografi Trauma ala Shunji Iwai dalam All About Lily Chou-Chou
Jika Jones fokus pada psikologi penggemar, Wai-fung So (2023) fokus pada bagaimana film ini membuat penonton merasakan trauma secara fisik dan emosional. So menggunakan kerangka teori afek dari filsuf Gilles Deleuze.
Backlighting sebagai Medium
So menemukan bahwa Shunji Iwai secara konsisten menggunakan backlighting (pencahayaan dari belakang) untuk mengisolasi figur remaja dari latar cerita. Dalam sinematografi konvensional, backlighting biasanya berfungsi memisahkan subjek dari latar agar lebih terlihat. Dalam film ini, backlighting melakukan lebih dari itu. Ia mengelilingi tubuh remaja dengan cahaya seperti ‘halo‘, menciptakan suatu ruang yang tidak jelas tempat dan waktunya (Deleuze menyebutnya any-space-whatever).
Dari Harapan ke Tanpa Harapan
So mengontekstualisasikan film ini dalam era lost decade di Jepang, yaitu periode 1990-an ketika gelembung ekonomi pecah dan optimisme pasca-perang runtuh. Dalam sinema Jepang era sebelumnya, ikon gadis muda (shojo) adalah simbol harapan dan kebangkitan bangsa. Dalam All About Lily Chou-Chou, ikon itu berubah menjadi simbol ketidakberdayaan dan kemarahan.
Mengapa Penonton Masa Kini Masih Merasa Terhubung?
Jones menemukan bukti dari komentar Letterboxd. Seorang pengguna bernama Benoftheweek menulis, remake Amerika tapi mereka adalah Barbs (penggemar Nicki Minaj) dan judulnya All About Onika Maraj. Pengguna lain menulis, “ini mungkin bagaimana saya terdengar ketika berbicara tentang Melanie Martinez di tahun 2017”. Ada juga yang membandingkan forum chat dalam film dengan stan twitter dan Discord.
Ini menunjukkan bahwa meskipun film ini dibuat di era awal internet dengan tampilan chatroom yang sangat primitif, penonton masa kini tetap merasa terhubung. Mereka melihat diri mereka sendiri dalam Yuichi dan Hoshino. Bahkan ada yang menulis,
penggemar Lily Chou-Chou sedang sekarat. Repost jika kamu adalah liliphile sejati.
Padahal Lily Chou-Chou adalah bintang fiktif, tetapi film ini berhasil menciptakan penggemar sungguhan untuk dirinya sendiri.
All About Lily Chou-Chou, Dekat karena Nyata
All About Lily Chou-Chou terasa dekat dan intens karena ia tidak berbohong tentang fungsi fandom. Ia menunjukkan bahwa musik, forum online, dan persona anonim bisa menjadi tempat perlindungan terakhir ketika dunia nyata tidak lagi bisa dihuni. Namun ia juga menunjukkan keterbatasan pelarian itu: media bisa dipatahkan, Ether bisa dikotori, dan teman online terbaik bisa jadi musuh terbesar di dunia nyata.
Jadi, bagaimana tanggapan kalian? Tertarik untuk menonton dan menjadi bagian dari absurditas dunia Ether? Atau ingin rewatch karena merasa ada yang terlewat?
https://www.imdb.com/title/tt0297721/?ref_=ext_shr_lnk
Artikel ini akan menjadi bagian perdana dalam pengesahan nama panggilan untuk pembaca dan kami. Selamat datang Ethers!.
– from eunoia.
