Enong, sebagai karakter utama dalam novel ini menggambarkan peran krusial perempuan. Ia menjalani beberapa sekaligus pekerjaan di usia dini. Namun, titik berhasilnya Andrea Hirata di sini adalah tidak menempatkan Enong pada tempat dan pandangan yang lemah. Sebagaimana, para perempuan dalam sudut pandang penulis laki-laki.
Enong bangkit dalam keterpurukan ditinggal mati oleh ayahnya. Ia meneruskan jejak ayah dalam menggeluti bidang pekerjaan laki-laki sambil mengejar pendidikan yang tinggi. Dalam karya ini, sosok Enong diibaratkan bentuk kekuasaan dan tekad perempuan akan mimpinya. Ia beranjak menembus batas dibalik tembok yang menjadi penghalangnya.
Tekad penuh keuletan dan giat sosok perempuan sangat digambarkan dengan utuh. Dalam beberapa adegan, Andrea membawa Enong pada makna hidup sebenarnya, di mana terdapat realitas pahit yang diterpa para perempuan dalam dunia nyata. Lingkungan yang patriarki dan misogini. Namun, Ia (Enong), dibebaskan lebih oleh Andrea, sehingga membentuk kekuatan baru dalam fiksi, yang disebut ‘Perempuan dalam Kekuasaan’.
Sosok Enong digambarkan berhasil. Ia menjadi guru bahasa Inggris, pemain catur, dan lain sebagainya. Menjajaki ranah laki-laki di warung kopi. Tanpa takut. Tanpa rasa manut yang berlarut.
Teruntuk pembaca, mengapa saya menulis tentang buku karya Andrea Hirata ini dalam mengawali laman saya? Sebab Enong, sudah merasuki saya untuk pantang menyerah berkarya melalui kekuatan yang bisa dipegang.
Artikel selanjutnya akan selalu dipenuhi opini yang mendasar dan dekat. Beberapa mungkin dipaparkan data-data yang kuat agar kita dapat melihat dengan akurat. Saya berusaha sebaik mungkin agar selalu ada makna tersirat yang melekat. Ketika pembaca sekalian sudah nekat dan niat, untuk mampir dan menunggu selanjutnya.
